Allah
berfirman dalam (Q.S Al Hijr (15): 28-29) yang artinya :
“Dan
(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku
akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari
lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan
kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah
kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr (15) : 28-29)
Ayat-ayat
yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah, umumnya dipahami secara
lahiriah. Hal ini itu menimbulkan pendapat bahwa manusia benar-benar dari
tanah, dengan asumsi karena Tuhan berkuasa , maka segala sesuatu dapat terjadi.
Ayat-ayat yang menerangkan bahwa manusia diciptakan dari tanah tidak berarti
bahwa semua unsur kimia yang ada dalam tanah ikut mengalami reaksi kimia. Hal
itu seperti pernyataan bahwa tumbuh-tumbuhan bahan makanannya dari tanah,
karena tidak semua unsur kimia yang ada dalam tanah ikut diserap oleh
tumbuh-tumbuhan, tetapi sebagian saja. Dari sini kita megetahui petunjuk
dimana sebenarnya bahan-bahan pembentuk manusia yaitu ammonia, menthe, dan air
terdapat, yaitu pada tanah, untuk kemudian bereaksi kimiawi.
Jika
dinyatakan istilah “Lumpur hitam yang diberi bentuk” (mungkin yang dimaksud
adalah bahan-bahan yang terdapat pada Lumpur hitam yang kemudian diolah dalam
bentuk reaksi kimia).
- B. Asal-usul Kejadian Manusia dalam Al-Qur’an
- 1. Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Di dalam Al
Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering
kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah
sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal
ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
“Yang
membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan
manusia dari tanah“. (QS. As Sajdah (32) : 7)
“Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang
berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk“. (QS. Al Hijr (15) : 26)
Disamping
itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu
dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 . Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw
bersabda :
“Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah“. (HR. Bukhari)
“Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah“. (HR. Bukhari)
- Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
Pada
dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam
keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak
menciptakan lawanjenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini
dijelaskan oleh Allah dalam salah sati firman-Nya
“Maha
Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa
yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak
mereka ketahui” (QS. Yaasiin (36) : 36)
Adapun
proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An
Nisaa’ ayat 1 yaitu :
“Hai
sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari
seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada
keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak…”
(QS. An Nisaa’: 1)
Di dalam
salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
“Maka
sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR.
Bukhari-Muslim)
- 3. Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa)
Kejadian
manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa. Dalam proses ini
disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau
secara medis. Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis
dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya :
وَلَقَدْ
خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ – (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً
فِي قَرَارٍ مَكِينٍ – (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً
فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا
الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ
أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ – (14) ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ
– (15) ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ – (16)
“Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal)
dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah,
lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu
Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan
daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha
Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun : 12-14).
وَ” اللَّهْ “لَقَدْ خَلَقْنَا
الْإِنْسَان” آدَم “مِنْ سُلَالَة” هِيَ مِنْ سَلَلْت الشَّيْء مِنْ الشَّيْء أَيْ
اسْتَخْرَجْته مِنْهُ وَهُوَ خُلَاصَته “مِنْ طِين” مُتَعَلِّق بِسُلَالَةٍ. “ثُمَّ جَعَلْنَاهُ” أَيْ
الْإِنْسَان نَسْل آدَم “نُطْفَة” مَنِيًّا “فِي قَرَار مَكِين” هُوَ الرَّحِم.
“ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَة عَلَقَة” دَمًا جَامِدًا “فَخَلَقْنَا الْعَلَقَة
مُضْغَة” لَحْمَة قَدْر مَا يُمْضَغ “فَخَلَقْنَا الْمُضْغَة عِظَامًا فَكَسَوْنَا
الْعِظَام لَحْمًا” وَفِي قِرَاءَة عَظْمًا فِي الْمَوْضِعَيْنِ وَخَلَقْنَا فِي
الْمَوَاضِع الثَّلَاث بِمَعْنَى صَيَّرْنَا “ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَر”
بِنَفْخِ الرُّوح فِيهِ “فَتَبَارَكَ اللَّه أَحْسَن الْخَالِقِينَ” أَيْ
الْمُقَدِّرِينَ وَمُمَيَّز أَحْسَن مَحْذُوف لِلْعِلْمِ بِهِ : أَيْ خَلْقًا
(Dan) Allah telah berfirman,
(Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia) yakni Adam (dari suatu sari pati)
lafal Sulaalatin berasal dari perkataan Salaltusy Syai-a Minasy Syai-i, artinya
aku telah memeras sesuatu daripadanya, yang dimaksud adalah inti sari dari
sesuatu itu (berasal dari tanah) lafal Min Thiinin berta’alluq kepada lafal
Sulaalatin.
013. (Kemudian Kami jadikan ia)
manusia atau keturunan Adam (dari nuthfah) yakni air mani (yang berada dalam
tempat yang kokoh) yaitu rahim.
014.
(Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah) darah kental . (lalu
segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging) daging yang besarnya sekepal
tangan. (dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu
tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging) menurut qiraat yang lain lafal
‘Izhaaman dalam dua tempat tadi dibaca ‘Azhman, yakni dalam bentuk tunggal. Dan
lafal Khalaqnaa yang artinya menciptakan, pada tiga tempat tadi bermakna
Shayyarnaa, artinya Kami jadikan. (kemudian Kami jadikan dia sebagai makhluk
yang lain) yaitu dengan ditiupkan roh ke dalam tubuhnya.
(Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik) sebaik-baik Yang Menciptakan. Sedangkan Mumayyiz dari lafal Ahsan tidak disebutkan, karena sudah dapat diketahui dengan sendirinya, yaitu lafal Khalqan. [Tafsir Jalalain 2/195 ]
(Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik) sebaik-baik Yang Menciptakan. Sedangkan Mumayyiz dari lafal Ahsan tidak disebutkan, karena sudah dapat diketahui dengan sendirinya, yaitu lafal Khalqan. [Tafsir Jalalain 2/195 ]
Kemudian
dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :
“Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya
seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim
ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh
hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari)
dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan
ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya,
ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya).” (HR. Bukhari-Muslim)
Ungkapan
ilmiah dari Al Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan penelitian
bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad
manusia. Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan “saripati berasal
dari tanah” sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari
makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian
melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan
hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah
pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim.
Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti
dijelaskan dalam ayat diatas).
Para ahli
dari barat baru menemukan masalah pertumbuhan embrio secara bertahap pada tahun
1940 dan baru dibuktikan pada tahun 1955, tetapi dalam Al Qur’an dan Hadits
yang diturunkan 15 abad lalu hal ini sudah tercantum. Ini sangat mengagumkan
bagi salah seorang embriolog terkemuka dari Amerika yaitu Prof. Dr. Keith Moore,
beliau mengatakan : “Saya takjub pada keakuratan ilmiyah pernyataan Al Qur’an
yang diturunkan pada abad ke-7 M itu”. Selain iti beliau juga mengatakan, “Dari
ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan)
sekarang untuk mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel
tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh
sperma (sel kelamin jantan). Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani
sampai dengan eksperimennya pada abad ke-18, demikian pula ide tentang
perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan genetik dari kromosom zygote
belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi jauh sebelumnya Al Qur’an telah
menegaskan dari nutfah Dia (Allah) menciptakannya dan kemudian (hadits menjelaskan
bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya.
Sebagai
bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama
embrio berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu
dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis
amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan
dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata
sangat cocok dengan apa yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an :
“…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga
kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam
selaput yang menutup anak dalam rahim)…” (QS. Az Zumar (39) : 6).
Kita sebagai
umat yang mengakui dan meyakini rukun iman yang enam, maka sudah sepantasnya
kita mengakui bahwa Al Qur’an adalah satu-satunya literatur yang paling benar
dan bersifat global bagi ilmu pengetahuan.
“Kitab
(Al Qur’an) in tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib…..” (QS. Al Baqarah (2) :
2-3)
Dengan
memperhatikan ayat tersebut maka kita seharusnya tidak perlu berkecil hati
menghadapi orang-orang yang menyangkal kebenaran keterangan mengenai asal usul
manusia. Salah satu fenomena yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan Al
Hadits adalah perkembangan janin dalam rahim yang kemudian dalam istilah ilmu
pengetahuan modern disebut embriologi.
Dari Al
Qur’an dan Al Hadits di atas menunujukkan bahwa Allah Ta`ala menciptakan
manusia melalui fase-fase berikut :
- Nuthfah
Ibnu Abbas RA memberikan tafsir tentang “min nuthfatin Amsyaj” dalam surat Al Mu’minun : 12 bahwa nuthfatun amsyaj adalah sperma laki-laki dan sel telur perempuan yang telah bertemu dan terjadi pembuahan kemudian terjadi perubahan dari keadaan yang satu kepada yang lain dan dari bentuk yang satu kepada bentuk yang lain. Imam Al Qurthuby Rahimahullah berkata : “Bahwasanya sperma di dalam rahim ketika dilepaskannya dengan kekuatan syahwat yang menjadikan mani itu tersebar dan bertaburan, maka Allah Ta`ala mengumpulkannya di dalam rahim tersebut”.
Riset para
ahli embriologi menyebutkan bahwa selain mengandung spermatozoa (sperma) air
mani juga tersusun dari berbagai campuran yang berlainan yang mempunyai fungsi
masing-masing, misalnya mengandung gula yang diperlukan untuk menyediakan
energi bagi spermatozoa, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan
lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma. Air mani yang tersusun dari
berbagai campuran tersebut telah disebutkan dalam Al- Qur’an. “Yang membuat
segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan
manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air
yang hina (mani)”. (QS. As Sajdah : 7-8).
Kata-kata
sulalah (saripati) pada ayat tersebut merupakan bagian yang mendasar atau
“bagian dari satu kesatuan”.
- ‘Alaqah
‘Alaqah
secara bahasa mempunyai arti sesuatu yang mengambang atau menempel, sedangkan
pada ‘alaqah ini embrio berbentuk segumpal darah sebagaimana ditegaskan Allah
SWT : “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS. Al ‘Alaq
: 2). ‘Alaqah merupakan bahan dasar bayi yang berupa sel tunggal, dalam istilah
biologi sel ini disebut zigot sebagai “segumpal darah”, istilah ‘alaqah ini
juga tersebut dalam firman Allah SWT : “kemudian mani itu menjadi segumpal
darah, lalu Allah menciptakannya,dan menyempurnakannya”. (QS. Al Qiyamah : 38).

- Mudghah
“…lalu segumpal darah itu Kami jadikan daging,…” ( QS. Al Mukminun : 14).
Mudghah yang mempunyai arti segumpal daging ini merupakan fase yang mana berbentuk lengkung, dengan penampakan gelembung-gelembung serta alur-alur.
Embrio yang tumbuh berumur 40-42 hari tidak lagi mirip dengan embrio hewan karena sudah dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW dari Hudzaifah ibnu Asid : “Ketika nuthfah telah lewat 42 malam dari penciptaan, Allah Ta`ala mengirim malaikat untuk membentuknya dan menciptakan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang. Kemudian malaikat bertanya : Ya Allah, ini akan dijadikan laki-laki atau perempuan ? Dan Allah memutuskan apa yang dikehendakiNya, ..” (HR. Muslim no : 2645)
Mudghah yang mempunyai arti segumpal daging ini merupakan fase yang mana berbentuk lengkung, dengan penampakan gelembung-gelembung serta alur-alur.

Embrio yang tumbuh berumur 40-42 hari tidak lagi mirip dengan embrio hewan karena sudah dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW dari Hudzaifah ibnu Asid : “Ketika nuthfah telah lewat 42 malam dari penciptaan, Allah Ta`ala mengirim malaikat untuk membentuknya dan menciptakan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang. Kemudian malaikat bertanya : Ya Allah, ini akan dijadikan laki-laki atau perempuan ? Dan Allah memutuskan apa yang dikehendakiNya, ..” (HR. Muslim no : 2645)
- Peniupan Ruh
Ruh
merupakan penggerak dan pertanda dari kehidupan seorang hamba, tanpa adanya ruh
maka jasad yang telah terbentuk tidak akan sempurna. Tentang ruh ini Allah
Ta`ala berfirman : “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah
“Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan
melainkan sedikit”. (QS. Al Isra’ : 85)
Para ahli
ilmu mendefinisikan ruh sebagai organ lembut yang berada pada badan. Proses
peniupan ruh oleh malaikat tersebut diiringi dengan proses penentuan rizkinya,
ajalnya, amalnya dan ia celaka atau bahagia. Proses peniupan ruh pada embrio
tersebut ketika berumur 120 hari sebagaimana disebutkan pada hadits dari Abi
Abdirrahman Abdillah bin Mas’ud RA. yang sudah tersebut di atas.
Hal lain
yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah bahwa embrio terselubungi oleh tiga
kegelapan “dzulumatin tsalats“. Para pakar embriologi menyebutkan bahwa
maksud dari tiga tabir kegelapan itu adalah ; 1. Dinding bagian dalam perut
ibu, 2. Dinding uterus, dan 3. Membran amniokorionik. Maha benar Allah Ta`ala
dengan firmanNya : “…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi
kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim,
dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)…”. (QS. Az Zumar
: 6)
BAB III
PENUTUP
Manusia
merupakan mahkluk yang mempunyai banyak keistimewaan dibandingkan mahkluk
ciptaan Allah yang lain. Banyak sekali perdebatan mengenai asal-usul penciptaan
manusia. Namun Al-qur’an berhasil menjawab keraguan kita. Al Qur’an dan Al
Hadits telah menjelaskan secara periodik dan sistematik tentang tahap-tahap
perkembangan embrio dalam rahim.
Al-Quran
menjelaskan tahap-tahap perkembangan sebelum kelahiran sebagai berikut:
1)
Nutfah (setetes sperma)
2)
‘alaqah ( segumpal darah yang melekat pada dinding uterus)
3)
Mudhgah (segumpal daging yang belum bertulang)
4)
Tulang, dan
5)
Daging
Allah
menuturkan tentang kekuasaan dan kelembutan-Nya mengenai penciptaan manusia
dari setetes mani dari satu tahap ketahapan lainnya, dari satu bentuk
kebentuklainnya hingga terciptalah sosok manusia yang lengkap dan sempurna,
kemudian Allah berfirman { فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ} yaitu Maka
Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
DAFTAR PUSTAKA
1)
Al-Qur’anul Karim dan terjemah
2)
Ulwan, Taufiq.2009. Ensiklopedia Ketika Allah Memperlihatkan Kuasanya.
Jakarta : Al- Mahira.
3)
Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli . Tafsir Jalalain. Maktabah Syamilah

Judul: Unsur Penciptaan Manusia
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh 13.26
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh 13.26

Tolong dikoreksi---daging bukan berasal dari darah...!!!, dan tulang bukan terbentuk dari darah...tolong koreksi tafsirannya--atau mungkin sumbernya yang salah, coba dipelajari ilmu kimia dan ilmu kesehatan tentang unsur penyusun tulang, daging dan darah---korelasinya dengan ilmu kima unsur penyusun tanah.
BalasHapusKemudian tidak ada tanah liat kering---tanah liat adalah tanah yang plastisitasnya tinggi sebab kandungan airnya banyak, anda perlu belajar ilmu-ilmu lain yang lebih mendasar sebelum ayat-ayat al-quran, sebab sangat bertentangan dengan ilmu kimia dan kesehatan...!!!
Terima kasih.
Rekomendasi :
https://bisakimia.com/2014/05/15/unsur-utama-pembentuk-tulang/
http://m.id.harunyahya.com/tr/Buku/2957/Penciptaan-Alam-Semesta/chapter/3150/Bab-8-Unsur-Unsur-Kehidupan-yang-Dirancang-Khusus
sebagai bahan koreksi terhadap penjelasan maupun revisi kitab tersebut, terkait penciptaan manusia...!!!
Kemudian dalam surat al alaq sebagai awal dari awal dan dasar bagi surat-surat lainnya, menyebutkan manusia berasal dari segumpal darah...kemudian barulah muncul tanah liat kering--berubah tanah--sari pati tanah--, urutan mana yang benar.
BalasHapusSedangkan surat al-alaq lebih dahulu diterima oleh nabi Islam, mana lebih dahulu al-alaq atau surat-surat lainnya--sehingga dilakukan penyesuaian seperti penjelasan bapak, namun tidak sinkron dengan ilmu kimia dan ilmu kesehatan.
Setelah dipelajari, anda bisa merevisinya---jika tidak, maka akan bertentangan dengan fakta keilmuan...!!!